z Adi Ngurah

www.adingurah.co.cc

Selamat Datang Di Blog Adi Ngurah , Semoga Dapat Bermanpaat Bagi Kita Semua

SELAMAT HARI RAYA GALUNGAN DAN KUNINGAN

Semoga Apa Yang Telah Kita Lakukan Mendapatkan hasil Yang Memuaskan Sesua Dengan Ajaran Agama Yang Kita Anut , Semoga Kedamaian Selalu Menyertai Kita semua Di Dunia Ini

PELABUHAN BULELENG

Dulu Buleleng Sempat Terkenal Dengan Pelabuhan Kapalnya Yang Sekarang Sudah Tinggal Kenangan.

ADI NGURAH

Terlahir Penuh Dengan Keterbatasan Tak Membuatku Untuk Pantang Menyerah Dengan Keadaan, Kini Ku Bangkit dan Akan Ku Tunjukkan Kalau AKU BISA !

BULELENG IN A SECOND

Keindahan Buleleng Dengan Berbagai Tempat Wisata Yang Tak Kalah Dengan Daerah Lain Di Indonesia.

SELAMAT HARI RAYA NYEPI TAHUN CAKA 1934

Jadikan Hari Raya Nyepi Tahun Ini Sebagai Pencerminan Hidup Kita Yang Di Masa Lalu , Mari Kita Berbenah diri dari Sekarang.

MUDA KREATIFITAS

Tetaplah Berkarya Dan Jadikan Hidupmu Bermanfaat Bagi Semua Orang

Senin, 23 Januari 2012

Hari Raya Galungan & Kuningan


Kata "Galungan" berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama: manis.

Agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini. Kapan sebenarnya Galungan dirayakan pertamakali di Indonesia, terutama di Jawa dan di daerah lain khususnya di Bali. Drs. I Gusti Agung Gede Putra (mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI) memperkirakan, Galungan telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia sebelum hari raya itu populer dirayakan di Pulau Bali. Dugaan ini didasarkan pada lontar berbahasa Jawa Kuna yang bernama Kidung Panji Amalat Rasmi. Tetapi, kapan tepatnya Galungan itu dirayakan di luar Bali dan apakah namanya juga sama Galungan, masih belum terjawab dengan pasti.

Namun di Bali, ada sumber yang memberikan titik terang. Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi. Dalam lontar itu disebutkan:

Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya.

Artinya: Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka.

Sejak itu Galungan terus dirayakan oleh umat Hindu di Bali secara meriah. Setelah Galungan ini dirayakan kurang lebih selama tiga abad, tiba-tiba — entah apa dasar pertimbangannya — pada tahun 1103 Saka perayaan hari raya itu dihentikan. Itu terjadi keti-ka Raja Sri Ekajaya memegang tampuk pemerintahan. Galungan juga belum dirayakan ketika tampuk pemerintahan dipegang Raja Sri Dhanadi. Selama Galungan tidak dirayakan, konon musibah datang tak henti-henti. Umur para pejabat kerajaan konon menjadi relatif pendek.

Ketika Sri Dhanadi mangkat dan digantikan Raja Sri Jayakasunu pada tahun 1126 Saka, barulah Galungan dirayakan kembali, setelah sempat terlupakan kurang lebih selama 23 tahun. Keterangan ini bisa dilihat pada lontar Sri Jayakasunu. Dalam lontar tersebut diceritakan bahwa Raja Sri Jayakasunu merasa heran mengapa raja dan pejabat-pejabat raja sebelumnya selalu berumur pendek. Untuk mengetahui penyebabnya, Raja Sri Jayakasunu mengadakan tapa brata dan samadhi di Bali yang terkenal dengan istilah Dewa Sraya — artinya mendekatkan diri pada Dewa. Dewa Sraya itu dilakukan di Pura Dalem Puri, tak jauh dari Pura Besakih. Karena kesungguhannya melakukan tapa brata, Raja Sri Jayakasunu mendapatkan pawisik atau "bisikan religius" dari Dewi Durgha, sakti dari Dewa Siwa. Dalam pawisik itu Dewi Durgha menjelaskan kepada raja bahwa leluhurnya selalu berumur pendek karena tidak lagi merayakan Galungan. Karena itu Dewi Durgha meminta kepada Raja Sri Jayakasunu supaya kembali merayakan Galungan setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi yang pernah berlaku. Di samping itu disarankan pula supaya seluruh umat Hindu memasang penjor pada hari Penampahan Galungan (sehari sebelum Galungan). Disebutkan pula, inti pokok perayaan hari Penampahan Galungan adalah melaksanakan byakala yaitu upacara yang bertujuan untuk melepaskan kekuatan negatif (Buta Kala) dari diri manusia dan lingkungannya. Semenjak Raja Sri Jayakasunu mendapatkan bisikan religius itu, Galungan dirayakan lagi dengan hikmat dan meriah oleh umat Hindu di Bali.

Makna Filosofis Galungan

Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari adharma dan mana dari budhi atma yaitu berupa suara kebenaran (dharma) dalam diri manusia.

Selain itu juga memberi kemampuan untuk membeda-bedakan kecendrungan keraksasaan (asura sampad) dan kecendrungan kedewaan (dewa sampad). Harus disadari bahwa hidup yang berbahagia atau ananda adalah hidup yang memiliki kemampuan untuk menguasai kecenderungan keraksasaan.

Galungan adalah juga salah satu upacara agama Hindu untuk mengingatkan manusia secara ritual dan spiritual agar selalu memenangkan Dewi Sampad untuk menegakkan dharma melawan adharma. Dalam lontar Sunarigama, Galungan dan rincian upacaranya dijelaskan dengan mendetail. Mengenai makna Galungan dalam lontar Sunarigama dijelaskan sebagai berikut:

Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep

Artinya: Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan ber-satunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran.

Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma.

Dari konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan me-nangnya dharma melawan adharma. Untuk memenangkan dharma itu ada serangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum dan setelah Galungan. Sebelum Galungan ada disebut Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Kata Jawa di sini sama dengan Jaba, artinya luar. Sugihan Jawa bermakna menyucikan bhuana agung (bumi ini) di luar dari manusia. Sugihan Jawa dirayakan pada hari Wrhaspati Wage Wuku Sungsang, enam hari sebelum Galungan.

Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Sugihan Jawa itu merupakan Pasucian dewa kalinggania pamrastista batara kabeh (Penyucian Dewa, karena itu hari penyucian semua bhatara). Pelaksanaan upacara ini adalah dengan membersihkan segala tempat dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci. Sedangkan pada hari Jumat Kliwon Wuku Sungsang disebutkan:

Kalinggania amretista raga tawulan (Oleh karenanya menyucikan badan jasmani masing-masing). Karena itu Sugihan Bali disebutkan menyucikan diri sendiri. Kata bali dalam bahasa Sansekerta berarti kekuatan yang ada di dalam diri. Dan itulah yang disucikan. Pada Redite Paing Wuku Dungulan diceritakan Sang Kala Tiga Wisesa turun mengganggu manusia. Karena itulah pada hari tersebut dianjurkan anyekung jñana, artinya: mendiamkan pikiran agar jangan dimasuki oleh Butha Galungan. Dalam lontar itu juga disebutkan nirmalakena (orang yang pikirannya selalu suci) tidak akan dimasuki oleh Butha Galungan.

Pada hari Senin Pon Dungulan disebut Penyajaan Galungan. Pada hari ini orang yang paham tentang yoga dan samadhi melakukan pemujaan. Dalam lontar disebutkan, "Pangastawaning sang ngamong yoga samadhi."

Pada hari Anggara Wage wuku Dungulan disebutkan Penampahan Galungan. Pada hari inilah dianggap sebagai hari untuk mengalahkan Butha Galungan dengan upacara pokok yaitu membuat banten byakala yang disebut pamyakala lara melaradan. Umat kebanyakan pada hari ini menyembelih babi sebagai binatang korban. Namun makna sesungguhnya adalah pada hari ini hendaknya membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri. Demikian urutan upacara yang mendahului Galungan.

Setelah hari raya Galungan yaitu hari Kamis Umanis wuku Dungulan disebut Manis Galungan. Pada hari ini umat mengenang betapa indahnya kemenangan dharma. Umat pada umumnya melam-piaskan kegembiraan dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan terutama panorama yang indah. Juga mengunjungi sanak saudara sambil bergembira-ria.

Hari berikutnya adalah hari Sabtu Pon Dungulan yang disebut hari Pemaridan Guru. Pada hari ini, dilambangkan dewata kembali ke sorga dan meninggalkan anugrah berupa kadirghayusaan yaitu hidup sehat panjang umur. Pada hari ini umat dianjurkan menghaturkan canang meraka dan matirta gocara. Upacara tersebut barmakna, umat menikmati waranugraha Dewata.

Pada hari Jumat Wage Kuningan disebut hari Penampahan Kuningan. Dalam lontar Sundarigama tidak disebutkan upacara yang mesti dilangsungkan. Hanya dianjurkan melakukan kegiatan rohani yang dalam lontar disebutkan Sapuhakena malaning jnyana (lenyapkanlah kekotoran pikiran).

Keesokan harinya, Sabtu Kliwon disebut Kuningan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan, upacara menghaturkan sesaji pada hari ini hendaknya dilaksana-kan pada pagi hari dan hindari menghaturkan upacara lewat tengah hari. Mengapa? Karena pada tengah hari para Dewata dan Dewa Pitara "diceritakan" kembali ke Swarga (Dewa mur mwah maring Swarga).

Demikianlah makna Galungan dan Kuningan ditinjau dari sudut pelaksanaan upacaranya. Macam-macam Galungan Meskipun Galungan itu disebut "Rerahinan Gumi" artinya semua umat wajib melaksanakan, ada pula perbedaan dalam hal perayaannya.

Berdasarkan sumber-sumber kepustakaan lontar dan tradisi yang telah berjalan dari abad ke abad telah dikenal adanya tiga jenis Galungan yaitu: Galungan (tanpa ada embel-embel), Galungan Nadi dan Galungan Nara Mangsa. Penjelasannya adalah sebagai berikut: Galungan Adalah hari raya yang wajib dilakukan oleh umat Hindu untuk merayakan kemenangan dharma melawan adharma.

Berdasarkan keterangan lontar Sundarigama disebutkan "Buda Kliwon Dungulan ngaran Galungan." Artinya, Galungan itu dirayakan setiap Rabu Kliwon wuku Dungulan. Jadi Galungan itu dirayakan, setiap 210 hari karena yang dipakai dasar menghitung Galungan adalah Panca Wara, Sapta Wara dan Wuku. Kalau Panca Waranya Kliwon, Sapta Waranya Rabu, dan wukunya Dungulan, saat bertemunya ketiga hal itu disebut Hari Raya Galungan.

Galungan Nadi Galungan yang pertama dirayakan oleh umat Hindu di Bali berdasarkan lontar Purana Bali Dwipa adalah Galungan Nadi yaitu Galungan yang jatuh pada sasih Kapat (Kartika) tanggal 15 (purnama) tahun 804 Saka (882 Masehi) atau pada bulan Oktober. Disebutkan dalam lontar itu, bahwa pulau Bali saat dirayakan Galungan pertama itu bagaikan Indra Loka. Ini menandakan betapa meriahnya perayaan Galungan pada waktu itu.

Perbedaannya dengan Galungan biasa adalah dari segi besarnya upacara dan kemeriahannya. Memang merupakan suatu tradisi di kalangan umat Hindu bahwa kalau upacara agama yang digelar bertepatan dengan bulan purnama maka mereka akan melakukan upacara lebih semarak. Misalnya upacara ngotonin atau upacara hari kelahiran berdasarkan wuku, kalau bertepatan dengan purnama mereka melakukan dengan upacara yang lebih utama dan lebih meriah.

Disamping karena ada keyakinan bahwa hari Purnama itu adalah hari yang diberkahi oleh Sanghyang Ketu yaitu Dewa kecemerlangan. Ketu artinya terang (lawan katanya adalah Rau yang artinya gelap). Karena itu Galungan, yang bertepatan dengan bulan purnama disebut Galungan Nadi. Galungan Nadi ini datangnya amat jarang yaitu kurang lebih setiap 10 tahun sekali.

Galungan Nara Mangsa

Galungan Nara Mangsa jatuh bertepatan dengan tilem sasih Kapitu atau sasih Kesanga. Dalam lontar Sundarigama disebutkan sebagai berikut:

"Yan Galungan nuju sasih Kapitu, Tilem Galungan, mwang sasih kesanga, rah 9, tenggek 9, Galungan Nara Mangsa ngaran."

Artinya: Bila Wuku Dungulan bertepatan dengan sasih Kapitu, Tilem Galungannya dan bila bertepatan dengan sasih Kesanga rah 9, tenggek 9, Galungan Nara Mangsa namanya.

Dalam lontar Sanghyang Aji Swamandala ada menyebutkan hal yang hampir sama sebagai berikut:

"Nihan Bhatara ring Dalem pamalan dina ring wong Bali, poma haywa lali elingakna. Yan tekaning sasih Kapitu, anemu wuku Dungulan mwang tilem ring Galungan ika, tan wenang ngegalung wong Baline, Kala Rau ngaranya yan mengkana. Tan kawasa mabanten tumpeng. Mwah yan anemu sasih Kesanga, rah 9 tenggek 9, tunggal kalawan sasih Kapitu, sigug ya mengaba gering ngaran. Wenang mecaru wong Baline pabanten caru ika, nasi cacahan maoran keladi, yan tan anuhut ring Bhatara ring Dalem yanya manurung, moga ta sira kapereg denira Balagadabah".

Artinya: Inilah petunjuk Bhatara di Pura Dalem (tentang) kotornya hari (hari buruk) bagi manusia, semoga tidak lupa, ingatlah. Bila tiba sasih Kapitu bertepatan dengan wuku Dungulan dan Tilem, pada hari Galungan itu, tidak boleh merayakan Galungan, Kala Rau namanya, bila demikian tidak dibenarkan menghaturkan sesajen yang berisi tumpeng. Dan bila bertepatan dengan sasih Kasanga rah 9, tenggek 9 sama artinya dengan sasih kapitu. Tidak baik itu, membawa penyakit adanya. Seyogyanya orang mengadakan upacara caru yaitu sesajen caru, itu nasi cacahan dicampur ubi keladi. Bila tidak mengikuti petunjuk Bhatara di Pura Dalam (maksudnya bila melanggar) kalian akan diserbu oleh Balagadabah.

Demikianlah dua sumber pustaka lontar yang berbahasa Jawa Kuna menjelaskan tentang Galungan Nara Mangsa. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Galungan Nara Mangsa disebutkan "Dewa Mauneb bhuta turun" yang artinya, Dewa tertutup (tapi) Bhutakala yang hadir. Ini berarti Galungan Nara Mangsa itu adalah Galungan raksasa, pemakan daging manusia. Oleh karena itu pada hari Galungan Nara Mangsa tidak dilang-sungkan upacara Galungan sebagaimana mestinya terutama tidak menghaturkan sesajen "tumpeng Galungan". Pada Galungan Nara Mangsa justru umat dianjurkan menghaturkan caru, berupa nasi cacahan bercampur keladi. Demikian pengertian Galungan Nara Mangsa.

Palaksanaan upacara Galungan di Bali biasanya diilustrasikan dengan cerita Mayadanawa yang diuraikan panjang lebar dalam lontar Usana Bali sebagai lambang, pertarungan antara aharma melawan adharma. Dharma dilambangkan sebagai Dewa Indra sedangkan adharma dilambangkan oleh Mayadanawa. Mayadanawa diceritakan sebagai raja yang tidak percaya pada adanya Tuhan dan tidak percaya pada keutamaan upacara agama.

Galungan di India


Hari raya Hindu untuk mengingatkan umat atas pertarungan antara adharma melawan dharma dilaksanakan juga oleh umat Hindu di India. Bahkan kemungkinan besar, parayaan hari raya Galungan di Indonesia mendapat inspirasi atau direkonstruksi dari perayaan upacara Wijaya Dasami di India. Ini bisa dilihat dari kata "Wijaya" (bahasa Sansekerta) yang bersinonim dengan kata "Galungan" dalam bahasa Jawa Kuna. Kedua kata itu artinya "menang".

Hari Raya Wijaya Dasami di India disebut pula "Hari Raya Dasara". Inti perayaan Wijaya Dasami juga dilakukan sepuluh hari seperti Galungan dan Kuningan. Sebelum puncak perayaan, selama sembilan malam umat Hindu di sana melakukan upacara yang disebut Nawa Ratri (artinya sembilan malam). Upacara Nawa Ratri itu dilakukan dengan upacara persembahyangan yang sangat khusuk dipimpin oleh pendeta di rumah-rumah penduduk. Nawa Ratri lebih menekankankan nilai-nilai spiritual sebagai dasar perjuangan melawan adharma. Pada hari kesepuluh berulah dirayakan Wijaya Dasami atau Dasara. Wijaya Dasami lebih menekankan pada rasa kebersamaan, kemeriahan dan kesemarakan untuk masyarakat luas.

Perayaan Wijaya Dasami dirayakan dua kali setahun dengan perhitungan tahun Surya. Perayaan dilakukan pada bulan Kartika (Oktober) dan bulan Waisaka (April). Perayaan Dasara pada bulan Waisaka atau April disebut pula Durgha Nawa Ratri. Durgha Nawa Ratri ini merupakan perayaan untuk kemenangan dharma melawan adharma dengan ilustrasi cerita kemenangan Dewi Parwati (Dewi Durgha) mengalahkan raksasa Durgha yang bersembunyi di dalam tubuh Mahasura yaitu lembu raksasa yang amat sakti. Karena Dewi Parwati menang, maka diberi julukan Dewi Durgha. Dewi Durgha di India dilukiskan seorang dewi yang amat cantik menunggang singa. Selain itu diyakini sebagai dewi kasih sayang dan amat sakti. Pengertian sakti di India adalah kuat, memiliki kemampuan yang tinggi. Kasih sayang sesungguhnya kasaktian yang paling tinggi nilainya. Berbeda dengan di Bali. Kata sakti sering diartikan sebagai kekuatan yang berkonotasi angker, seram, sangat menakutkan.

Parayaan Durgha Nawa Ratri adalah perjuangan umat untuk meraih kasih sayang Tuhan. Karunia berupa kasih sayang Tuhan adalah karunia yang paling tinggi nilainya. Untuk melawan adharma pertama-tama capailah karunia Tuhan berupa kasih sayang Tuhan. Kasih sayang Tuhanlah merupakan senjata yang paling ampuh melawan adharma.

Sedangkan upacara Wijaya Dasami pada bulan Kartika (Oktober) disebut Rama Nawa Ratri. Pada Rama Nawa Ratri pemujaan ditujukan pada Sri Rama sebagai Awatara Wisnu. Selama sembilan malam umat mengadakan kegiatan keagamaan yang lebih menekankan pada bobot spiritual untuk mendapatkan kemenangan rohani dan menguasai, keganasan hawa nafsu. Pada hari kesepuluh atau hari Dasara, umat merayakan Wijaya Dasami atau kemenangan hari kesepuluh. Pada hari ini, kota menjadi ramai. Di mana-mana, orang menjual panah sebagai lambang kenenangan. Umumnya umat membuat ogoh-ogoh berbentuk Rahwana, Kumbakarna atau Surphanaka. Ogoh-ogoh besar dan tinggi itu diarak keliling beramai-ramai. Di lapangan umum sudah disiapkan pementasan di mana sudah ada orang yang terpilih untuk memperagakan tokoh Rama, Sita, Laksmana dan Anoman.

Puncak dari atraksi perjuangan dharma itu yakni Sri Rama melepaskan anak panah di atas panggung yang telah dipersiapkan sebelumnya. Panah itu diatur sedemikian rupa sehingga begitu ogoh-ogoh Rahwana kena panah Sri Rama, ogoh-ogoh itu langsung terbakar dan masyarakat penontonpun bersorak-sorai gembira-ria. Orang yang memperagakan diri sebagai Sri Rama, Dewi Sita, Laksmana dan Anoman mendapat penghormatan luar biasa dari masyarakat Hindu yang menghadiri atraksi keagamaan itu. Anak-anak ramai-ramai dibelikan panah-panahan untuk kebanggaan mereka mengalahkan adharma.

Kalau kita simak makna hari raya Wijaya Dasami yang digelar dua kali setahun yaitu pada bulan April (Waisaka) dan pada bulan Oktober (Kartika) adalah dua perayaan yang bermakna untuk mendapatkan kasih sayang Tuhan. Kasih sayang itulah suatu "sakti" atau kekuatan manusia yang maha dahsyat untuk mengalahkan adharma. Sedangkan pada bulan Oktober atau Kartika pemujaan ditujukan pada Sri Rama. Sri Rama adalah Awatara Wisnu sebagai dewa Pengayoman atau pelindung dharma. Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan filosofi dari hari raya Wijaya Dasami adalah mendapatkan kasih sayang dan perlindungan Tuhan. Kasih sayang dan perlindungan itulah merupakan kekuatan yang harus dicapai oleh menusia untuk memenangkan dharma. Kemenangan dharma adalah terjaminnya kehidupan yang bahagia lahir batin.

Kemenangan lahir batin atau dharma menundukkan adharma adalah suatu kebutuhan hidup sehari-hari. Kalau kebutuhan rohani seperti itu dapat kita wujudkan setiap saat maka hidup yang seperti itulah hidup yang didambakan oleh setiap orang. Agar orang tidak sampai lupa maka setiap Budha Kliwon Dungulan, umat diingatkan melalui hari raya Galungan yang berdemensi ritual dan spiritual.


(Sumber: Buku "Yadnya dan Bhakti" oleh Ketut Wiana, terbitan Pustaka Manikgeni)
 

Sabtu, 21 Januari 2012

Puasa Siwaratri Semestinya Tiap Bulan



Marayakan Siwaratri pada hakekatnya adalah melakukan pengendalian diri. Caranya dengan upawasa, monobrata, dan jagra. Namun, umat Hindu semestinya tiap bulan berpuasa.
Pada pertengahan bulan November dan sampai pertengahan bulan Desember 2001 yang lalu, angkasa Nusantara seolah-olah dipenuhi oleh kata-kata "puasa, puasa, dan puasa". Pagi-pagi buta televisi dan radio sudah menyiarkan acara yang berkaitan dengan puasa. Kalaupun kita tidak menyalahkan kedua barang ajaib tersebut, speaker masjid tempat tinggal kita juga berteriak "sahur-sahur, sahur-sahur". Tak ketinggalan iklan di tv, radio, pamplet dan spanduk di jalanan menuliskan "Selamat Menjalankan Ibadah Puasa". Ya benar, pada waktu itu bertepatan dengan bulan Ramadhan bagi orang Islam.

Sebagai anggota masyarakat yang hidup di tengah-tengah orang yang menjalankan puasa, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, kita akan mendengar, melihat juga memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan ritual tahunan tersebut. Namun hal ini juga menggugah keingintahuan dalam diri kita sebagai orang Hindu. Kemudian akan timbul pertanyaan, adalah puasa dalam ajaran Hindu? Kalaupun ada, mantra atau sloka manakah dalam Weda yang memerintahkan untuk berpuasa, kapan, dan bagaimana melakukannya?
Pada orang-orang Jawa ajaran puasa ini juga cukup memasyarakat. Kita mengenal banyak macam puasa. Ada yang dinamakan "Pasa Ngebleng" yaitu puasa tidak makan tidak minum dan ngumpet di suatu tempat tertentu, biasanya di kamar atau juga membuat lubang di tanah, waktunya bisa 1 hari 1 malam, 3 hari 3 malam atau 7 hari 7 malam dan seterusnya. Hal ini mirip dengan puasa Nyepi. Ada juga puasa "Mutih" yaitu puasa hanya dengan makan nasi putih tanpa lauk tanpa garam, minumnya juga hanya air putih tanpa pemanis. Waktunya fleksibel ada yang 1 hari, 3 hari, 7 hari. Kemudian puasa "Ngrowot" yaitu puasa hanya makan umbi-umbian, buah-buahan selain nasi. Ada juga puasa tidak tidur atau "melek".
Pertanyaan semakin kuat, adakah ajaran puasa dalam Hindu? Ya, benar. Ajaran Hindu penuh dengan ajaran puasa yang dikenal dengan istilah tapa, meskipun istilah puasa itu sendiri berasal dari bahasa Sanskerta dari kata upawasa. Jadi sebenarnya Islam Indonesia telah meminjam istilah puasa dari Hindu sebab puasa dalam bahasa Arab adalah shaum, di Jawa dan Sunda istilahnya menjadi syiam. Tapa berarti pengendalian atas indra-indra dan pikiran. Dengan tapa orang mencapai kesucian, dengan kesucian orang bisa dekat dengan Hyang Widhi. Dunia ini bisa berjalan dengan baik karena disangga oleh salah satunya adalah tapa.

Artarwa Weda XII.1.1 mengatakan:

Satyam brhad rtam ugram diksa, tapo brahma yajna prthiwim dharayanti.
Artinya: Sesungguhnya Satya, rta, diksa, tapa, brahma dan Yajna yang menyangga dunia.

Yajur Weda XX.25 mengatakan:

Dengan melakukan tapa (brata) seseorang memperoleh diksa (penyucian), dengan melakukan diksa seseorang memperoleh daksina, dengan daksina seseorang memperoleh sraddha dan dengan sraddha seseorang memperoleh satya.

Atharwa Weda VIII.9.3 mengatakan:

Brahma-enad vidyat tapasa vipascit.
Artinya: Orang yang bijaksana mengetahui Hyang Widhi dengan sarana tapa (penebusan dosa).

Artarwa Weda IV.11.6 mengatakan:

Yena devah svar aruruhur, hitva sariram amrtasya nabhim
Tena gesma sukrtasya lokam, gharmasya vratena tapasa ya sasya vah.
Artinya: Dengan pertolongan Hyang Widhi, orang-orang bijaksana sesudah kematian memperoleh keselamatan, yang mencapai pusat nectar (minuman dewa) yakni kebahagiaan sejati. Semoga kami yang berkeinginan kemasyuran juga mencapai kekekalan itu, melalui pelaksanaan pertapaan yang keras dan menjalankan janji (brata).

Atharwa Weda XI.8.2 mengatakan:

Tapas caiva-astam karma ca-antar mahati-arna ve.
Artinya: Tapa dan keteguhan hati adalah satu-satunya juru selamat di dunia yang mengerikan.

Rg Weda IX.83.1 mengatakan:

Atapta-tanur na tad amo asnute.
Artinya: Orang tidak bisa menyadari Sang Hyang Widhi Wasa, Yang Maha Agung tanpa melaksanakan tapa.

Intisari tapa adalah pengendalian atau pembatasan atas dua hal yaitu pikiran dan indra-indra. Indra jumlahnya ada lima yang disebut Panca Indra. Indra mempunyai alat indra yang juga berjumlah lima yang disebut Panca Karmendriya, dan mempunyai obyek indra yang disebut Panca Tanmatra.

Indra-indra itu antara lain:
1. Indra pendengaran alatnya telinga obyeknya suara.
2. Indra sentuhan alatnya kulit obyeknya angin dan hal-hal yang bila menyentuh terasa menyenangkan.
3. Indra penglihatan alatnya mata obyeknya cahaya atau wujud-wujud.
4. Indra pengecap alatnya lidah obyeknya makanan, minuman.
5. Indra penciuman alatnya hidung obyeknya bau.
Pengendalian atas indra-indra itu adalah sebagai berikut:
1. Pengendalian atas indra pendengaran berarti membatasi telinga untuk mendengarkan hal-hal yang menyenangkan seperti suara musik, suara pujian termasuk suara merdu sang pacar.
2. Pengendalian atas indra sentuhan berarti membatasi kulit untuk merasakan hal-hal yang menyenangkan seperti sentuhan halus kulit kekasih, tempat tidur atau kursi yang empuk, dan lain-lain.
3. Pengendalian atas indra penglihatan berarti membatasi mata untuk melihat hal-hal yang menyenangkan seperti TV, film, VCD porno, wajah cantik atau tampan, dan sebagainya, tapi arahkan penglihatan ke dalam batin, ke wujud Atman terus ke wujud Sivatattwa, karena di sana lebih indah dan lebih menyenangkan.
4. Pengendalian atas indra pengecap berarti puasa tidak makan dan minum serta membatasi lidah untuk berbicara, bicara hanya hal-hal yang perlu dan baik.
5. Pengendalian atas indra penciuman berarti membatasi hidung untuk mencium bau-bau yang menyenangkan seperti bau harum parfum, makanan, termasuk harum pipi kekasihnya.
Itulah kelima indra yang harus dikendalikan. Kunci untuk bisa mengendalikan indra adalah pengendalian atas pikiran. Pikiran mempunyai jangkauan yang tak terbatas, kecepatannya melebihi kecepatan cahaya, tajamnya melebihi ketajaman pedang. Kalau bisa mengendalikan pikiran kelima indra juga mudah untuk ditundukkan. Cara mengendalikan pikiran pertama pikiran harus dibersihkan dengan cara membaca atau melantunkan mantra-mantra atau sloka-sloka Weda, dan meditasi.
Ada banyak ragam puasa, namun sayang umat Hindu di Indonesia hanya menjalankan 2 puasa secara massal yaitu puasa Nyepi dan puasa Siwa Ratri. Namun demikian sesungguhnya umat Hindu bisa menjalankan puasa Siwa Ratri setiap bulan, sebab setiap bulan kita bertemu dengan Siwa Ratri yaitu pada purwani tilem.
Bhagawan Sri Stya Sai Baba mengatakan:
"Beginilah, malam dikuasai oleh bulan. Bulan mempunyai enam belas kala atau bagian-bagian kecil. Setiap hari bila bulan menyusut, berkuranglah satu bagian kecil hingga bulan hilang seluruhnya pada malam bulan yang baru. Setelah itu setiap hari tampak sebagaian, hingga lengkap pada bulan purnama. Bulan adalah dewata yang menguasai manas yaitu pikiran dan perasaan hati. 'Candramaa manaso jaathah'. Dari Manas (pikiran) Purusha (Tuhan) timbullah bulan. Ada daya tarik menarik yang erat antara pikiran dan bulan, keduanya dapat mengalami kemunduran atau kemajuan. Susutnya bulan adalah simbul susutnya pikiran dan perasaan hati, karena pikiran dan perasaan hati dikuasai, dikurangi akhirnya dimusnahkan. Semua sadhana ditujukan pada hal ini. Manohara, pikiran dan perasaan hati harus dibunuh, sehingga maya dapat dihancurkan dan kenyataan terungkapkan. Setiap hari selama dua minggu ketika bulan menggelap, bulan, dan secara simbolis rekan imbangnya di dalam diri manusia yaitu 'manas' menyusut dan lenyap sebagian, kekuatannya berkurang, dan akhirnya pada malam keempat belas, Chaturdasi, sisanya hanya sedikit. Jika pada hari itu seorang sadhaka berusaha lebih giat, maka sisa yang kecil itupun dapat dihapuskan dan tercapailah Manonigraha (penguasaan pikiran dan perasaan hati). Oleh karena itu Chaaturdasi dari bagian yang gelap disebut Siwaratri. Karena malam itu seharusnya digunakan untuk japa dan dhyana kepada Siwa tanpa memikirkan soal yang lain, baik soal makan maupun tidur. Dengan demikian keberhasilan pun terjamin. Dan sekali setahun pada malam Mahasiwaratri, dianjurkan mengadakan kegiatan spiritual yang istimewa agar apa yang Savam (jasat atau simbol orang yang tak memahami kenyataan sejati) menjadi Sivam (terberkati, baik, ilahi) dengan menyingkirkan hal yang tak berharga, yang disebut Manas."
Jadi dengan bisa dikuasainya pikiran, indra-indrapun akan lebih mudah ditundukkan dan kebahagiaan yang sejati akan tercapai.
Wrhaspati Tattwa mengajarkan ada 3 jalan untuk mencapai moksa, yaitu:
1. Jnanabhyadreka artinya jalan pengetahuan tentang semua tattwa.
2. Indriyayogamaarga artinya jalan pengendalian atas indra dengan melepaskan diri dari segala indra atau tidak menikmati indra.
3. Trsnadosaksaya artinya memusnahkan buah perbuatan baik dan buruk atau kerja tanpa mengikatkan diri pada hasil kerja.
Selamat menjalankan puasa Mahasiwaratri dan jangan lupa bulan berikutnya ada Siwararti juga yang harus dimanfaatkan untuk berpuasa agar bisa mencapai kesucian lahir dan batin.

sumber : http://www.parisada.org/index.php?Itemid=29&id=268&option=com_content&task=view

Senin, 26 Desember 2011

Nyepi


Hari Raya Nyepi adalah hari pergantian tahun Saka (Isakawarsa) yang dirayakan setiap satu tahun sekali yang jatuh pada sehari sesudah tileming kesanga pada tanggal 1 sasih Kedasa. Secara lebih jelas, arti perayaan nyepi dijelaskan pada tajuk lain.
Kegiatan dalam menyambut Hari Raya Nyepi ini ada dua macam yaitu:
1 Sehari sebelum hari raya Nyepi, tepat pada bulan mati (tilem) melaksanakan upacara Bhuta Yadnya (mecaru).
2 Pada hari raya Nyepi yaitu awal tahun baru Saka yang jatuh pada tanggal 1 sasih Kedasa dilaksanakan upacara Yoga Samadhi.

Ada empat berata pantangan yang wajib diikuti pada saat hari raya Nyepi, disebut Catur Berata Penyepian, yaitu:
1 Amati Geni berpantang menyalakan api
2 Amati Karya menghentikan aktivitas kerja
3 Amati Lelanguan berpantang menghibur diri / menghentikan kesenangan
4 Amati Lelungaan berpantang bepergian

Dalam kesenyapan hari suci Nyepi ini kita mengadakan mawas diri, menyatukan pikiran, serta menyatukan cipta, rasa, dan karsa, menuju penemuan hakikat keberadaan diri kita dan inti sari kehidupan semesta. Lakukan Berata penyepian upawasa (tidak makan dan minum), mona brata (tidak berkomunikasi), dan jagra (tidak tidur).

Keesokan harinya yaitu hari raya Ngembak Geni, segenap isi rumah keluar pekarangan dan bermaaf-maafan dengan tetangga dan handai tolan yang ditemui, dalam suasana batin yang telah bersih dan dipenuhi kebijaksanaan.

Hari raya Nyepi oleh umat hindu di Bali dirayakan sebagai hari pergantian tahun baru Caka. Hari raya ini menurut penanggalan hindu jatuh pada tanggal satu (penanggal pisan) sasih X (kedasa) atau tepatnya sehari sesudah tilem ke IX (kesanga). Terdapat beberapa rangkaian pelakasanaan hari raya Nyepi ini, yaitu:

Melasti

Melasti sering disebut dengan Melis atau Mekiis. Upacara melasti ini dilakukan pada pengelong 13 sasih kesanga (tepatnya traodasa kresnapaksa sasih IX). Pada upacara melasti ini dilakukan pensucian atau pembersihan segala sarana atau prasarana persembahyangan. Alat-alat atau sarana persembahyangan yang dibersihkan antara lain adalah: pratima dan pralingga. Sarana-sarana ini selanjutnya diusung ke tempat pembersihan seperti laut (pantai) atau sumber mata air lain yang dianggap suci, sesuai dengan keadaan tempat pelaksanaan upacara (desa, kala, patra). Tujuan dari upacara melasti ini adalah untuk memohon tirtha amerta sebagai air pembersih dari Hyang Widhi.

Tawur Kesanga

Tawur kesanga jatuh sehari sebelum pelaksanaan hari raya nyepi yaitu pada tilem kesanga. Pada upacara tawur ini dilakukan persembahan kepada para bhuta berupa caru. Caru ini dipesembahkan agar para bhuta tidak menurunkan sifat-sifatnya pada pelaksanaan hari raya nyepi. Hal ini juga bertujuan untuk menghilangkan unsur-unsur jahat dari diri manusia sehingga tidak mengikuti manusia pada tahun berikutnya. Upacara tawur kesanga ini sering juga disebut dengan upacara pecaruan dan juga tergolong upacara bhuta yadnya.

Hari Nyepi

Hari raya nyepi dirayakan oleh umat dengan cara melakukan Catur Bratha Penyepian. Catur bratha penyepian terdiri dari empat macam pantangan yaitu: amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bekerja) dan amati lelanguan (tidak melakukan kegiatan hiburan). Semua pantangan in dilakukan untuk mengekang hawa nafsu dan segala keinginan jahat sehingga dicapai suatu ketenangan atau kedamaian batin. Dengan ini pikiran manusia bisa terintropeksi atas segala perbuatannya pada masa lalu dan pada saat yang sama memupuk perbuatan yang baik untuk tahun berikutnya. Semua ini dilakukan selama satu hari penuh pada hari raya nyepi.

Ngembak Geni
Sehari setelah hari raya nyepi, semua aktivitas kembali berjalan seperti biasa. Hari ini dimulai dengan persembahyangan dan pemanjatan doa kepada Hyang Widhi untuk kebaikan pada tahun yang baru. Pada hari ngembak geni ini hendaknya umat saling bersilatuahmi dan memaafkan satu sama lain.

Hari raya nyepi pada hakekatnya adalah hari pengekangan hawa nafsu dan intropeksi diri atas segala perbuatan yang dilakukan pada masa lalu. Pelaksanaan hari raya nyepi ini harus didasari dengan niat yang kuat, tulus dan ikhlas tanpa ada ambisi tertentu. Pengekangan hawa nafsu untuk mencapai kebebasan batin memang suatu ikatan tetapi ikatan itu dilakukan dengan penuh keikhlasan.

Secara lebih jelas, pelaksanaan berata penyepian dapat dilihat pada tajuk berikut

Powered By : http://www.hindubatam.com

Sabtu, 03 September 2011

Asal mula nama Desa/Kelurahan Banyuning



Asal mula nama Desa/Kelurahan Banyuning adalah Monaspathika diman nama-nama Monaspathika diambil dari bahasa Sansekerta yang terdiri dari kata Mona dan Spathika. Mona berarti diam/hening, Spathika berarti air. Jadi kata Monaspathika diartikan air yang hening/Banyuning. Desa Monaspathika sudah ada pada abad 13 dimana pada jaman itu masyarakat Monaspathika tebal keyakinannya terhadap adanya Polipos gaib yang ada pada pohon-pohon yang besar dan batu-batu yang besar maka dari itu dibangunlah Pura Pemaksanan yang sekarang diberi nama Pura Gede Pemayun. Disamping itu ada pula Pura Pemaksan yang lain seperti Pura Pemaksan Kangin, Pura pemaksan kauh yang diberi nama Pura Kerta. Lama-kelamaan begitu Mpu Kuturan dating ke Bali, berdirilah Pura Kayangan Tiga di antaranya: Pura Desa/Bale Agung, Pura Dalem, dan Pura Segara. Kemudian Dalem Shili menyerahkan prasasti Raja Purana kepada bendesa Monaspathika di mana prasasti/Raja Purana terebut ditempatkan di Pura Pemaksan Kauh (Pura Kerta) dan lama kelamaan Desa Monaspathika semakin menyempit dan bagian baratnya semakin utuh. Dan bagian lainnya yaitu:
  • Sebelah utaranya disebut subak kayu pas karena orang minum air dikedat rawa-rawa membuat orang mati yang airnya mengandung racun yang diakibatkan dari pohon-pohon yang tumbuh disitu dari itulah tempat tersebut disebut Subak Kayu Pas.
  • Sebelah selatannya subak padangkeling yang ceritanya ada orang kalingga tidak cocok dengan raja Monaspathika tentang awig-awig dan dia menyingkir keselatan buat pondok-pondok disebut Desa Padangkeling
  • Sebelah timurnya subak kayu jati disebut subak jati karena disana ada pohon-pohon jadi banyak yang ditebang oleh orang-orang Bebetin dan buat pondok disana disebut Kubujati dan subaknya disebut Subak Jati.
  • Sebelah timurnya tukad buus dibuat sawah diberi nama Subak Banyuning. Jadi seseungguhnya Monaspathika menurut Pof. Berandes orang Belanda orang Belanda tahun 1868 artinya Monaspathika: Mona = Ning Spatika yaitu berkilau, berobat sama dengan Yeh (yeh ning) dan disebut Banyuning.
Kemudian Banyuning menganut penyepian khusus yaitu pada bulan September sasih ke tiga dengan hal membuat pecaruan yang dilaksanakan pada waktu matahari berada nol derajat itu didasari penduduk Banyuning pada waktu itu kena wabah penyakit serta ditambah melakukan penyepian umum (penyepian umat hindu

Upacara ''Cakcakan'' di Desa Sambirenteng --- Bersama-sama ''Magibung'' Ayam Pecundang




SUASANA di sepanjang jalan di Desa Sambirenteng, Tejakula, begitu meriah. Warga turun ke jalan dengan wajah-wajah sumringah, penuh senyum dan gurau yang diikuti tawa berderai-derai.
Betapa tidak gembira. Senin malam itu, tepat pada bulan mati, tilem kapitu, warga Desa PakramanSambirenteng sedang menggelar upacara cakcakan, sejenis upacara magibung, makan bersama, yang diikutisekitar 1.600 orang.
Upacara yang mungkin hanya satu-satunya di Bali bahkan di Indonesia ini merupakan upacara rutin yang digelar tepat pada tilem kapitu setiap tahunnya. Diperkirakan, tradisi ini berlangsung sejak beratus-ratus tahun lalu dan tetap dipelihara dengan setia oleh warga setempat.
Namun secara pasti, tak satu pun warga Sambirenteng yang mengetahui asal-usul dari tradisi tersebut."Upacara ini hanya diketahui secara tutur-tinular dari para leluhur desa," ujar Kepala Desa Sambirenteng I Wayan Nuarya. Asal-usul sebuah upacara kadang tak terlalu penting. Yang penting bagaimana warga meyakininya sebagai sesuatu yang baik dan menjalaninya dengan setia.
Itulah yang terjadi di Sambirenteng. Ketika tilem kapitu, usai melaksanakan upacara pacaruan di perempatan jalan desa, warga turun ke jalan untuk melaksanakan upacara cakcakan. Selain upacaranya sendiri cukup unik, di mana warga terlihat makan bersama di sepanjang jalan desa, prosesi yang menjadi rangkaian upacara ini pun tak kalah uniknya.
Sebelumnya, warga yang berstatus suami-istri wajib menyetor seekor ayam aduan untuk diadu dalam acara sabungan ayam yang digelar di Pura Sanggah Desa, Desa Sambirenteng. Semua ayam yang kalah (pecundang) atau ayam yang sapih (seri) harus diserahkan kepada desa adat untuk diolah menjadi lauk-pauk pagibungan.
Lalu bagaimana dengan warga yang tak punya ayam aduan atau tidak suka mengadu ayam? Untuk masalah ini, desa adat ternyata memberi solusi yang amat manusiawi. Warga yang tak menyetorkan ayam aduan untuk diadu dibolehkan menyetor satu ekor ayam pedaging atau membayar uang pemirak (semacam uang pengganti) Rp 15 ribu. Acara sambungan ayam itu dilaksanakan sehari menjelang upacara cakcakan selama sehari penuh, dan dilanjutkan setengah hari beberapa jam menjelang upacara cakcakan dimulai.
Setelah digelar acara paebatan (memasak) secara bersama-sama, maka sekitar pukul 18.00 wita upacara cakcakan pun dimulai. Semua warga Desa Sambirenteng, laki-perempuan dan tua-muda wajib turut serta, termasuk tamu atau pendatang juga diperkenankan bergabung dalam acara makan ayam pecundang itu dengan catatan harus mengikuti tata tertib. Tata tertibnya, satu klakat nasi (satu gibungan) hanya diperkenankan untuk 8 orang. Dalam acara itu disediakan 200 klakat nasi gibungan sehingga diperkirakanjumlah orang magibung mencapai 1.600 orang.
Bisa dibayangkan betapa bergembiranya warga dalam acara magibung itu, apalagi lauk-pauknya diambil dari olahan daging ayam pecundang dalam sebuah acara sabungan. Menurut sejumlah orang, daging ayam pecundang jauh lebih enak ketimbang ayam biasa yang sengaja disembelih untuk lauk-pauk.
Asisten I Sekkab Buleleng Anak Agung Ngurah Kusa mewakili Bupati Bagiada turut serta menjadi tamu undangan dalam upacara itu. Kusa bersama pejabat Muspika Tejakula turut bergembira menikmati nasi gibungan yang dipadu dengan olahan daging ayam pecundang.  
Istilah cakcakan dalam upacara itu tak ada yang mengetahui maknanya secara jelas. Bahkan, hingga kini belum ada warga yang punya waktu untuk menganalisis kepastian makna dari kata cakcakan. Yang jelas, upacara itu berlangsung setiap tahun. Meski sejarahnya tak diketahui secara lengkap, warga Desa Sambirenteng menganggap upacara itu sebagai salah satu upacara agama Hindu.
Menurut Wayan Nuarya, pada tahun 1956 pernah upacara itu tidak dilaksanakan, dan pada tahun itu terjadimusibah yang mengenaskan. "Seseorang mengamuk sampai membunuh beberapa orang,"

Legenda Asal-Usul Nama Buleleng dan Singaraja

Legenda Asal-Usul Nama Buleleng dan Singaraja

 
Di daerah Klungkung, Bali, hidup seorang raja yang bergelar Sri Sagening. Ia mempunyai  istri bernama  Ni Luh Pasek. Ni Luh Pasek berasal dari Desa Panji. Mereka mempunyai anak bernama I Gusti Gede Pasekan.
I Gusti Gede Pasekan mempunyai wibawa yang besar. Ia sangat dicintai oleh pemuka masyarakat dan masyarakat biasa. Setelah ia berusia dua puluh tahun, ayahnya menyuruhnya pergi ke Den bukit di daerah Panji.
Keesokan harinya, I Gusti gede berangkat bersama rombongan dari istana. Dalam perjalanan ke Den Bukit ini, I Gusti Gede Pasekan diiringkan oleh empat puluh orang di bawah pimpinan Ki Dumpiung dan Ki Kadosot.
Setelah empat hari berjalan, mereka tiba disuatu tempat  yang disebut Batu Menyan. Di sana, mereka bermalam. Tiba-tiba, I Gusti Gede  Mendengar  suara gaib yang mengatakan bahawa daerah Panji akan menjadi  daerah kekuasaannya. I Gusti Gede Pasekan terkejut mendenga suara gaib tersebut.
Keesokan harinya, I Gusti Gede Pasekan melanjutkan perjalanan. Walaupun perjalanan itu sukar dan jauh, akhirnya mereka berhasil juga mencapai tujuan tersebut dengan selamat.
Suatu hari, ketika ia berada didesa ibunya, terjadilah peristiwa yang menggemparkan. Sebuah perahu Bugis terdampar di Pantai Panimbangan. Pada mulanya, orang Bugis meminta pertolongan nelayan disana. Akan tetapi, nalayan disana tidak berhasil membebaskan perahu yang kandas.
Keesokan harinya, orang Bugis itu datang kepada I Gusti Gede Pasekan. Dia berkata, “Kami mengharapkan bantuan Tuan”. Jika tuan berhasil menggangkat perahu kami, sebagian isi perahu akan kami serahkan kepada Tuan sebagai  upahnya.”
“Jika itu memang janji Tuan, saya akan mencoba mengangkat perahu yang kandas itu, “jawab I Gusti Gede Pasekan.
I Gusti Gede Pasekan berhasil membebaskan perahu itu. Ia menggunakan tenaga gaibnya untuk mengangkat perahu besar itu. Orang Bugis itu pun menaati janjinya dengan senang hati.
Sejak kejadian itu, I Gusti Gede Pasekan mulai meluaskan kekuasaannya. Pada pertengahan abad ke-17, ia mendirikan kerajaan baru di Den Bukit. Orang-orang menyebut ibu kota kerajaan itu Sukasada.
Kerajaan itu makin luas dan berkembang. Maka didirikanlah pusat kerajaan baru. Letaknya di utara kota Sukasada. Sebelum menjadi kota, daerah itu banyak sekali ditumbuhi pohon buleleng. Oleh karena itu pusat kerajaan baru itu disebut Buleleng. Buleleng adalah nama pohon yang buahnya sangat digemari oleh burung perkutut. Di pusat kerajaan baru itu, didirikan istana megah yang diberi nama Singaraja.
Nama Singaraja menunjukan bahwa penghuninya adalah raja yang gagah perkasa seperti singa. Ada pula yang mengatkan bahwa Singaraja berarti ‘tempat persinggahan raja’. Ketika kerajaannya masih di Sukasada, Raja sering singgah disana. Jadi, kata singaraja berasal dari kata singgah raja.

Senin, 01 Agustus 2011

Profil Desa Bungkulan

SELAYANG PANDANG  DESA BUNGKULAN

  1. Sejarah Desa

Desa Bungkulanjaman dahulu merupakan daerah belantara, daerah ini merupakan wilayah kekuasaanJro Pasek Menyali, sedangkan disebelah timur Tukad Aya/Desa Kubutambahan menjadi wilayah kekuasaan Jro Pasek Bulian.

Bermula dari kedatangan I Gusti Ngurah Tambahan ke Bulian, beliu berasal dari Desa Tambahan Bangli, pada saat kedatangan I Gusti Ngurah Tambahan diwilayah Bulian, wilayah tersebut terganggu keamanannya Pasek Bulian mohon bantuan kepada I Gusti Ngurah Tambahan untuk memulihkan keamanan diwilayah tersebut. Berkat kesaktian I Gusti Ngurah Tambahan dan sebilah keris pusakahnyayang bernama KI BAAN KAU, keamana wilayah tersebut pulih kembali, atas jasanya kemudian Jro Pasek Bulian member tempat tinggal tetap kepada I Gusti Ngurah Tambahan yaitu ditepi “siring Kauh” wilayah bulian (dipinggir sebelah timur tukad aya) disanalah I Gusti Ngurah Tambahan mulai membuka lahan persawahan.

Setelah peristiwa tersebut diatas datanglah Jro Pasek Menyali yang berkuasa disebelah barat tukad aya menghadap kepada Jro Pasek Bulian. Pasek Menyali memaparkan maksud kedatangannya bahwa seorang Denawa yang disebut Menaru sering mengganggu ketentraman penduduk, terutama pada waktu diadakan upacara ngusaba desa dimana penari rejang paling akhir (kitut rejang) sering diculik / dilarikan oleh I Menaru sehingga upacara menjadi terganggu dan masyarakat ketakutan.

Pasek Bulian kemudian menunjukan orang yang mungkin   bisa membantu memulihkan keamanan Pasek Menyali yaitu I Gusti Ngurah Tambahan setelah mendapatkan kesepakatan dan kesanggupan dari I Gusti Ngurah Tambahan, lalu I Gusti Ngurah Tambahan beserta pengikutnya datang untuk menyelidiki keadaan wilayah Pasek Menyali. Berkat Kedigjayaan beliu akhirnya diketahui tempat tinggal menaru yaitu di Goa Batu Mejan / Togtog Polo daerah ini merupakan daerah perbatasan Jagaraga, Girimas (dahulu sangsit) dan Bungkulan, dengan keris pusakanya yang bernama KI BAAN KAU I Menaru mendapat taklukan , karena jasa beliau maka Jro Pasek Menyali member hadia tanah /wilayah disebelah barat tukad aya.

Dengan didapatkannya hadia dari Jro Pasek Bulian dan Jro Pasek Menyali yang wilayahnya sebagian disebelah timur Tukad Aya, sebagian lagi sebelah barat Tukad Aya, Maka I Gusti Ngurah Tambakan menyatukan kedua wilayah tersebut menjadi satu (abungkul) yang disebut BUNGKULAN yang kita warisi sampai sekarang . Disamping itu nama Bungkulan identik dengan bulian, untuk mengenang jasa Jro Pasek Bulian kepada I Gusti Ngurah Tambahan. Setelah Desa Bungkulan terbentuk Pura Pasek milik Jro Pasek Menyali dijadikan Pura Desa Bungkulan , Keris Pusaka I Gusti Ngurah Tambahan sampai sekarang masih tersimpan didusun Jro Gusti Bungkulan .

Demikian sekilan sejarah terbentuknya Desa Bungkulan



  1. Visi DAN MISI

VISI

VISI Desa merupakan salah satu kendaraan sebagai pendorong bagi masyarakat desa supaya mempunyai motivasi untuk secara terus menerus atas dasar kesadaran sendiri untuk melakukan pembangunan dengan menyesuikan situasi dan kondisi saat ini, disamping daya dukung serta memanfaatkan potensi yang ada dan masalah yang selalu beriringan akan memunculkan pembangunan yang berkualitas.

VISI Desa ataupun cita-cita yang ingin dicapai masyarakat Desa Bungkulan adalah Menggali melestarikan dan mengembangkan potensi Desa untuk kesejahteraan masyarakat melalui  pembangunan yang berkelanjutan dengan menitikberatkan pada pertanian dalam arti luas berlandaskan konsep Trihita Karana.



MISI

MISI Pembangunan Desa Bungkulan Tahun 2010 – 2015 dalam mencapai masyarakat sejahtera terkai visi tersebut diatas dengan cara mengembangkan dan membangun bidang kualitas dan kuantitas serta kapasitas warga ( dibidang pendidikan dan kesehatan ) sarana prasarana dasar dan ekonomi adalah :

  1. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui program pendidikan dan kesehatan serta mengembangkan potensi desa untuk membangun menuju masyarakat sejahtera
  2. Mendorong pembangunan dengan menggali potensi desa serta melestarikan dan mengembangkan dengan konsep Trihita Karana
  3. Meningkatkan ketahanan ekonomi dengan menggalakkan usaha ekonomi kerakyatan melalui program strategi dibidang produksi pertanian, pemasaran usaha kecil dan menengah
  4. Menumbuhkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan potensi desa atas dasar kesadaran dan kemandirian dalam pembangunan desa yang berkelanjutan
  5. Menciptakan suasana yang aman dan tertib dalam kehidupan bermasyarakat
  6. Meningkatkan pelayanan kepada masyarakat antara lembaga pemerintahan didesa serta lembaga adat



  1. Lambang dan Arti

Lambang

Arti Lambang

  1. Segi Lima              : Pancasila
  2. Lumbung Sari        : Tempat Penyimpanan Hasil (Sari)
  3. Keris                     : Ketajaman Bayu, Sabda Idep
  4. Luk Pitu/Tujuh       : Berarti Sapta Gangga (Tujuh Suangai Pelambang ke Hidupan atau Amerta yang memberikan kekuatan hidup kepada manusia)
  5. Padi Kapas            : Kesuburan/Kemakmuran
  6. Lingkaran               : Bungkulan
  7. Bintang                  : Ketuhanan
  8. Tiga Bulatan           : Tri Hita Karana
  9. Nama Simbul         : “Ekam Wrddhityam Bhawana”

  Artinya tempat menyatunya yang banyak dan subur itu



  1. Batas Desa / Batas Wilayah Desa Bungkulan
  2. Sebelah Utara berbatasan dengan laut Bali
  3. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Kubutambahan
  4. Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Jagaraga
  5. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Giri Mas



  1. Jarak atara Desa dengan Pemeritahan
  2. Ibu Kota Kecamatan   :     4 Km
  3. Ibu Kota Kabupaten   :   10 Km
  4. Ibu Kota Provinsi        :   98 Km



  1. Jumlah Penduduk Desa Bungkulan : 10.212 Jiwa

Berdasarkan Kepercayaan / Agama Penduduk Desa Bungkulan dapat di Komposisikan Sebagai berikut :

  1. Agama Hindu                         : 10.156 orang
  2. Agama Islam                          :        25 orang
  3. Agama Kristen Protestan        :        26 orang
  4. Agama Budha                         :          5 orang



  1. Mata Pencaharian Penduduk
  2. Pegawai Negeri Sipil               :    344 orang
  3. Pengusaha/Suasta                    :    436 orang
  4. Petani                                      : 1.329 orang
  5. Pedagang                                : 1.152 orang
  6. Nelayan                                   :    195 orang
  7. Lain-lain                                  : 3.835 orang



  1. Sarana Kesehatan
  2. Puskesmas Pembantu
  3. Posyandu



  1. Organisasi yang ada di Desa Bungkulan
  2. Organisasi Satya Wahana BHakti
  3. Organisasi Subak Lebeha
  4. Organisasi Subak Yeh Lembu
  5. Organisasi Subak Gulingan
  6. Organisasi Subak Dalem
  7. Organisasi Subak Pungakan
  8. Organisasi Subak Yangai



  1. Struktur Pemerintahan Desa Bungkulan

Perbekel Desa Bungkulan             : I Ketut Kusuma Ardana, S.TP

Sekretaris Desa                             : I Gede Mudiarsa



Kepala Urusan                              :

      Kaur Pem.Umum                    : Gede Sudiatmaka

      Kaur Pemerintahan                 : K.S Wahyu Windrawati

      Kaur Pembangunan                 : Nyoman Budiarsana

      Kaur Kesra                              : Dewa Ketut Kertadana

      Kaur Keuangan                       : Luh Asti



Kelian Banjar Dinas                                  :

      Kelian Banjar Dinas Alasarum            : Putu Redita

      Kelian Banjar Dinas Sema                  : Gede Selamat

      Kelian Banjar Dinas Jro Gusti            : Gst. N. Sashadi

      Kelian Banjar Dinas Ancak                : Kadek Sukrawan

      Kelian Banjar Dinas Satria                  : Dw. Made Buda Kerti

      Kelian Banjar Dinas P. Sangsit           : Made Maha Werdi

      Kelian Banjar Dinas Dauh Munduk   : Nengah Radia

      Kelian Banjar Dinas Punduh lo          : Putu Purwa Tama

      Kelian Banjar Dinas Kubu Kelod       : Ketut Mujana

      Kelian Banjar Dinas Pamesan             : Made Suserama

      Kelian Banjar Dinas Sari                     : Made Gatra Atmaja

      Kelian Banjar Dinas Jro Wargi           : Putu Suarsana

      Kelian Banjar Dinas Badung              : Ketut Wirasanjaya



  1. Susunan Organisasi dan Kepengurusan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM)

Desa Bungkulan

Ketua                    : Nyoman Rakiana

Wakil Ketua          : Putu Ngurah Sarjana

Sekretaris              : I Ketut Sumerta, S.Pd

Wakil Sekretaris    : Gede Ratuana, S.Pd

Bendahara             : Putu Kembar Budana

Wakil Bendahara  : Nyoman Sudiarsa



Seksi – Seksi

      Seksi Agama

      Ketua              : I Made Upekse (alm)

      Anggota          : Dewa Ketut Djareken

                                I Gst Bagus Suta Atmaja





      Seksi Kamtibmas

      Ketua              : Nyoman Sumedana

      Anggota          : Made Merta

                                Ketut Swastika



      Seksi Pendidikan

      Ketua              : Made Suma Wijana

      Anggota          : Dewa Made Dwijaya

                                Nyoman Sudiata, S. Pd



      Seksi Pemb. Ekop, dan Lingkungan Hidup

      Ketua              : Made Sukeraki

      Anggota          : Gede Oka Bakas

                                Gst. Bagus Sudarpa

                                Dewa Made Sutama



      Seksi Kesehatan, KB dan Kependudukan

      Ketua              : I Made Suparnada, S.Pd.

      Anggota          : Gede Alit Sukarsana

                                Ketut Anggardana (Alm)



      Seksi Pemuda dan Olah raga

      Ketua              : Dewa Made Saktian

      Anggota          : Gede Bagiada

                                Putu Kula Warma

      Seksi PKK     

      Ketua              : Ayu Sri Utari

      Anggota          : Gede Widiasa

                                Nyoman Budirat

                                Dewa Ketut Widiasa

                                Gede Gunama



  1. Susunan Kepengurusan Badan Permusyawaratan Desa (BPD)

Ketua                    : Ketut Arjana, S.Pd

Wakil Ketua          : Putu Dwija A. Kusuma

Sekretaris              : Gede Maharjaya

      Anggota          : Ir N Srilaba, M.Si

                              : Gede Sudarjaya

                              : Gusti Ngurah Wisnawa

                              : Nyoman Swijaya

                              : Ketut Lanang Arya

                              : Putu Kembar Budana

                              : Kade Suardana

                              : Dewa Made Buda Ardana



  1. Struktur Organisasi Karang Taruna Satya Wahana Bhakti Desa Bungkulan

Penanggung Jawab                                   : Perbekel Desa Bungkulan

Ketua                                                        : I Gede Agus Tanaya Somandhana, SH

Wakil I                                                      : Gusti Bagus Biji

Wakil II                                                     : Dewa Warsika

Sekretaris                                                  : Mangku Nyoman Sudiarsa

Wakil Sekretaris                                        : Gede Mudiasa



Bendahara                                                 : Dewa Made Budiapa

Wakil Bendahara                                       : Kadek Widiasa



Seksi – Seksi

      Sie. Bidang Diklat                              : Komang Seneng Wira

                                                                  : Kadek Saraswati, S.Pd

                                                                  : Marta Wirawan

                                                                  : Nyoman Suraga, S.Pd

      Sie. UKS                                             : Gede Alit Sukarsana

                                                                  : Ketut Resdiani



      Sie. Pembanguan Masyarakat             : Gede Suryadilaga, SH

                                                                  : Gede Kantanila

                                                                  : Kadek Suardika



      Sie. Kube                                            : Gatra Atmaja

                                                                  : Komang Suastika



      Sie. Kerop/ P. Mental                          : Nyoman Sudiarsa

                                                                  : Gusti Krisna Wangsa

                                                                  : Nyoman Budirat

                                                                  : Nyoman Sumuaka

                                                                  : Made Sumaryadi



      Sie O.R / Kes                                      : Wayan Mastawan

                                                                  : Dewa Budiarna

                                                                  : Nyoman Suarjana

                                                                  : Gede Sudarjana



      Sie. Lingkungan Hidup                       : Gede Suma Putra

                                                                  : Ketut Hartawan

                                                                  : Komang Adiyasa



      Sie Humas                                           : Dewa Suastika

                                                                  : Gede Jaya

                                                                  : Putu Aryawan

                                                                  : Gusti Ngurah Kertaraharja



      Sie. Pembantu Umum                         : Klian Sekeha Teruna-Truni Se Desa Bungkulan



      Anggota Karang Taruna                                 : Teruna-Teruni Se-Desa Bungkulan dari umur 11 s/d 45 tahun